“Setiap jiwa hilang karena luka yang tak pernah mereka sembuhkan.”
Bab 16 membawa Arvin kembali ke titik terdalam dalam hidupnya, bukan melalui waktu, tetapi melalui dimensi yang menuntut kejujuran. Setelah laboratorium runtuh dan realitas terpecah, Arvin terlempar ke dalam spiral api, ruang di mana karma mengambil bentuk. Di sana, ia bertemu dengan seorang anak tanpa wajah, bayangan masa lalunya sendiri, representasi dari keputusan gelap yang telah ia kubur selama bertahun-tahun. Pertemuan itu memaksa Arvin untuk mengakui kesalahan yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Tidak ada pengampunan. Tidak ada suara dari surga. Hanya keheningan dan api… yang mencerminkan seseorang apa adanya. Bab ini mengakhiri perjalanan Arvin dengan titik balik, bukan keselamatan, tetapi kejujuran pertama yang ia izinkan untuk dirinya sendiri dalam hidupnya.
ANAK YANG INGIN MENANG
Sebelum Arvin tahu tentang eksperimen, portal, atau Server Doa… dia hanyalah seorang anak yang tidak ingin kalah. Dia lahir sebagai anak tengah. Cerdas, cepat belajar, ambisius. Dan dia memiliki kakak laki-laki, anak emas keluarga, seorang jenius olahraga, yang nilainya tidak pernah turun. Arvin selalu membenci satu hal: perasaan kalah. Di ruang tamu, piala-piala kakaknya memenuhi rak. Di album foto, kakaknya selalu berdiri di tengah. Setiap kali ada perayaan, orang tuanya akan berkata, “Lihat kakakmu. Mengapa kamu tidak bisa seperti dia?” Di wajah kecil Arvin, senyum merekah saat dia mengangguk. Di dalam hatinya yang kecil, api kecil tumbuh. Hari Ketika Segalanya Hancur Anak yang Ingin Menang Sebelum Arvin tahu tentang eksperimen, portal, atau Server Doa… dia hanyalah seorang anak dengan satu kalimat dalam darahnya: Aku tidak bisa kalah. Dan dia memiliki seorang kakak laki-laki, anak emas keluarga, seorang jenius olahraga yang nilai akademiknya tidak pernah turun. Arvin selalu membenci satu hal, perasaan kalah. Di ruang tamu, piala-piala kakaknya memenuhi rak. Di album foto, kakaknya selalu berdiri di tengah. Di setiap perayaan, di setiap pertemuan keluarga, ada ritual yang tak terhindarkan, “Lihat kakakmu, Kevin. Mengapa kamu tidak bisa seperti dia?” Arvin tersenyum dan mengangguk, tangan kecilnya mencengkeram tepi kursi. Di balik senyum itu, di sudut gelap jiwanya yang belum siap untuk mengenal kebencian, sebuah nyala api kecil mulai menyala.
Nyala api itu berbisik, "Aku harus menang. Apa pun caranya." Hari Ketika Segalanya Hancur. Hujan hari itu tipis, seperti kabut yang menyedihkan. Nilai ujian kelulusan Arvin tidak hanya turun, tetapi jatuh bebas, hancur berkeping-keping di atas kertas yang basah oleh keringat dinginnya. Sementara itu, kakaknya, sekali lagi, sempurna. Malam itu, rumah berguncang oleh tawa, sorak-sorai, dan tepuk tangan. Kue ulang tahun dengan lilin menyala, bukan untuk Arvin, tetapi untuk pemenangnya, sang bintang. Arvin menghilang, duduk sendirian di tangga belakang yang lembap. Hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi dia tidak merasa kedinginan. Yang dia rasakan adalah panas, panas di dadanya, panas yang membuat matanya perih. Di tangannya, dia meremas nilai-nilainya, memutar-mutarnya, menghancurkannya menjadi bola tak berbentuk. Seolah-olah jika dia menghancurkannya cukup keras, kenyataan akan runtuh bersamanya. Kemudian, dari suatu tempat yang dalam, gelap, dan sunyi, sebuah pikiran muncul: "Jika dunia ini hanya memiliki ruang bagi satu orang untuk bersinar... maka yang lain harus mati." Dia bekerja. Seolah-olah dia akhirnya menemukan jawaban atas masalah yang telah lama tidak terpecahkan.
DORONGAN ITU
Beberapa minggu kemudian, dalam perjalanan berkemah sekolah, di tepi tebing kecil, tanahnya gembur karena hujan minggu lalu, Arvin berdiri di belakang kakak laki-lakinya. Angin bertiup lembut. Di tengah percakapan, suara teman-temannya tertawa riang. Kakak laki-laki Kevin sedang mengikat tali sepatunya, membelakangi Arvin, tidak menyadari apa pun, tidak waspada. Arvin tidak bermaksud mendorong keras. Hanya sentuhan kecil, hampir tak terasa di punggung. Hanya sedetik. Tetapi satu detik itu cukup untuk membuat tubuh Kevin terhuyung, kakinya di tanah yang licin, dan tubuhnya, yang selalu berdiri tegak di podium, dalam foto keluarga, di hati orang tua mereka, jatuh ke dalam jurang keheningan. Arvin menjerit. Jeritannya memecah keheningan, dipenuhi kepanikan, sesak napas, isak tangis yang memilukan. Dia menangis paling keras dan paling mengharukan, sampai guru-gurunya memeluknya, sampai teman-temannya ikut menangis bersamanya. Mereka semua percaya bahwa kesedihannya itu nyata. Hanya Arvin yang tahu bahwa di balik semua air mata itu, sesuatu telah mati dan sesuatu yang lain telah lahir. Kepuasannya hanya berlangsung lima detik. Rasa bersalahnya berlangsung seumur hidup.
Namun di balik perasaan itu, satu kalimat terus bergema di dalam dirinya, seperti mantra baru yang menggantikan doa: "Sekarang... akulah satu-satunya." Dan dunia, entah mengapa, tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Pria yang Melarikan Diri dari Kisahnya Sendiri Arvin tumbuh menjadi dewasa yang tampak sempurna di mata dunia. Cerdas, berprestasi, ambisius. Citra yang dibangun dengan cermat, batu demi batu, seolah-olah dengan cukup usaha, ia dapat mengubur citra anak laki-laki yang pernah berdiri di tepi tebing, tangannya masih hangat dari dorongan yang mengubah segalanya. Di laboratorium Tuan David, ia dikenal sebagai peneliti brilian, selalu yang pertama datang dan yang terakhir pergi. Matanya tajam, tepat, tidak pernah puas. Setiap eksperimen, setiap data, setiap persamaan harus sempurna. Ia ingin memperbaiki semua yang salah di dunia, karena dengan melakukan itu, mungkin ia dapat memperbaiki kesalahan yang terkubur jauh di dalam relung terdalam jiwanya. Namun di balik setiap kesuksesan, di balik setiap pujian dari rekan-rekannya, bayangan kecil selalu mengikutinya.
Suara yang sama seperti sebelumnya, hanya sekarang lebih dalam, lebih dewasa, lebih kejam, “Jika aku tidak baik… aku tidak pantas hidup.” Rasa bersalah itu tidak pernah hilang. Hanya bentuknya yang berubah. Menjadi ambisi yang membara. Menjadi kebutuhan obsesif untuk mengendalikan segalanya. Menjadi keyakinan bahwa jika dia bisa mengubah nasib orang lain, menyelamatkan dunia, atau menciptakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, maka mungkin, hanya mungkin, dia bisa ditebus. Sampai Tuan David memperkenalkannya pada Server Doa. Sebuah teknologi yang seharusnya tidak dia sentuh. Sebuah pintu yang seharusnya tidak dia buka. Tetapi ketika dia membaca proposal itu, ketika dia memahami skalanya, bagaimana teknologi itu berpotensi mengubah takdir, mengatur ulang realitas, memberi kesempatan kedua kepada mereka yang jatuh, dia melihat lebih dari sekadar terobosan ilmiah. Dia melihat sebuah pengakuan. Sebuah kemungkinan pengampunan. Sebuah cara untuk melarikan diri dari kisahnya sendiri atau mungkin, akhirnya, menulis ulang akhir ceritanya.
Tetapi yang belum mereka pahami adalah bahwa Server Doa tidak hanya melemparkan mereka ke dimensi acak. Ia sedang memilah mereka. Ia sedang menghakimi mereka. Bukan berdasarkan moralitas… tetapi berdasarkan niat yang belum terselesaikan. Mesin itu telah membaca setiap fragmen kesadaran mereka pada saat perpisahan mereka: cinta putus asa David, rasa ingin tahu polos Shayla, perfeksionisme Juno yang retak, dan rasa bersalah Arvin yang terpendam—satu-satunya kenangan terdalam yang ia simpan, yang terkait dengan saudara kandung yang tidak pernah ia bicarakan. Server Doa tidak menempatkannya secara acak. Ia menempatkannya tepat di tempat karma yang belum terselesaikan paling kuat: jalan menuju Neraka, alam tempat setiap jiwa harus menghadapi satu kebenaran yang paling mereka takuti.
PINTU MASUK KE NERAKA Pintu yang Salah
Pada hari pertama Pelayan Doa hidup, hari ketika mesin itu bernapas, berbicara, dan menelan empat manusia—portal itu tidak hanya menarik tubuh mereka. Ia juga menarik niat mereka. Keinginan mereka. Ketakutan mereka. Lorong itu seharusnya sunyi. Hanya suara alarm yang samar di latar belakang dan cahaya portal yang belum tertutup. Tapi Arvin berhenti. Terdengar suara dari pintu kayu yang retak di sebelahnya. "Cak…" Bukan manusia. Bukan mesin. Bukan David. Bukan Shayla. Tapi ritmenya… seperti panggilan. Arvin menelan ludah. Pintu bergetar pelan, udara di sekitarnya berkata, “Jangan membukanya. Ini bukan jalanmu.” Tapi rasa bersalah selalu lebih kuat daripada akal sehat. “Jika aku tidak masuk… itu semua salahku.” Dia menyentuh kenop pintu. Pintu itu tidak terbuka. Dia membukanya sendiri. Semburan panas menerpa wajahnya, bukan api, tetapi ritme yang patah, suara yang patah yang diatur ulang oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu. “Cak… cak… cak…” Tidak indah. Tidak sakral. Tidak teratur.
Ritmenya terdengar seperti:
langkah yang salah,
keputusan yang terlambat,
penyesalan yang tak berujung.
Arvin diseret ke dalam oleh sesuatu yang tak terlihat.
INFERNAL 1 SPIRAL LANGKAH YANG SALAH
Tidak ada arena. Tidak ada obor. Tidak ada penari. Hanya puluhan, ratusan lingkaran, berputar seperti diagram keputusan dalam pikiran manusia. Dan di tengah setiap lingkaran terdapat versi kecil dirinya: Arvin pada usia 10 tahun, Arvin sebagai remaja, Arvin mendorong saudaranya, Arvin ketika David kecewa, Arvin menatap dirinya sendiri dengan jijik. Mereka tidak menari. Mereka hanya mengulangi gerakan yang selalu salah. Arvin berbisik pelan: “Apa ini…?” Dari kegelapan terdengar suara yang bukan manusia, bukan iblis. Itu seperti rekaman dirinya sendiri yang diputar terlalu lambat, “Kau selalu satu langkah terlambat… Dan kau ingin memperbaiki semuanya dengan melompat ke langkah terakhir.” Arvin mundur. Kakinya tanpa sengaja menginjak salah satu lingkaran. Pada saat itu, semua suara "cak" berhenti. Semua versi dirinya menoleh ke arah Arvin. Serentak. "Bukan begitu cara belajarnya." Arvin panik, berlari. Tetapi setiap langkah menciptakan lingkaran baru, spiral kesalahan yang tak berujung. "Cak CAK CAK CAK CAK!" Ritme berubah menjadi detak jantungnya sendiri. Arvin berlutut. Dia menutup telinganya. "Berhenti! Aku hanya ingin memperbaiki semuanya…" Angin panas berhembus. Sebuah bayangan tinggi muncul: Tubuhnya terdiri dari: eksperimen, cetak biru, laporan kegagalan, catatan "seandainya…", bagan takdir yang robek. Dia berbicara tanpa mulut, "Infernal tidak membakar tubuh, Arvin. Ia membakar ilusi." Arvin gemetar. "Ilusi apa…?" "Bahwa kau bisa memperbaiki masa lalu dengan menghukum dirimu sendiri."
SAUDARA KANDUNG
Pada saat itu, ritme yang berbeda muncul: suara "caaak" yang sumbang. Suara yang tidak selaras dengan keheningan dan ketakutan. Kemudian, dari kejauhan, sebuah suara kecil, terbelah oleh jarak dan waktu, "...ar...vin..." Arvin membeku.
Tubuhnya menjadi patung, terjebak di antara bernapas dan lupa bernapas. Itu bukan suara David. Bukan suara Shayla. Bukan makhluk itu. Itu adalah suara yang pernah didengarnya di pinggir lapangan sepak bola, di ruang makan, dalam mimpinya saat terjaga. Suara yang telah dikuburnya di bawah tumpukan prestasi dan eksperimen.
"Kevin...?"
Sebuah cahaya kecil muncul, dalam bentuk seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun. Bukan hantu. Hanya ingatan rasa bersalah yang mengambil bentuk. Bayangan itu mendekat, tersenyum lembut. Wajahnya masih sama seperti yang diingat Arvin: mata jernih, rambut sedikit berantakan, kemeja lengan pendek yang dikenakannya hari itu. "Aku tidak datang untuk menghukummu," seru Arvin. Tangisannya bukan lagi tangisan seorang ilmuwan, penjahat, atau penyintas. Itu adalah tangisan seorang anak berusia sepuluh tahun yang berdiri di tepi tebing, tangannya masih terbakar oleh dosa. “Aku… mendorongmu… Aku jahat…” Bayangan itu menggelengkan kepalanya. Perlahan. Dengan pemahaman yang seharusnya tidak dimiliki seorang anak. “Kau tidak jahat, Arvin. Kau hanya anak yang ketakutan. Ketakutanlah yang membawaku ke sini… bukan kejadian itu.” Arvin berlutut. Lututnya menyentuh lantai yang dingin, seolah seluruh tubuhnya akhirnya menyerah pada kebenaran. “Bagaimana… aku bisa menebus kesalahanku?” Bayangan itu menatapnya dengan lembut. Tidak ada kemarahan. Tidak ada dendam. Hanya penerimaan yang mendalam, seperti langit yang memeluk bumi setelah hujan. Cahaya itu bergerak maju, tangan kecilnya menyentuh dada Arvin. Dan di sana, jauh di dalam rongga hatinya, yang penuh dengan bekas luka dan batu-batu berat, sesuatu hancur. Bukan seperti kaca, tetapi seperti beban yang mengeras selama beberapa dekade akhirnya retak, berubah menjadi debu, dan kemudian lenyap ditiup angin yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bayangan itu berbicara dengan lembut, suaranya seperti gema dari masa lalu yang akhirnya menemukan kedamaian, "Aku memaafkanmu. Sekarang giliranmu untuk memaafkan dirimu sendiri." Dan itu lenyap.
KELUAR DARI PINTU KE WEVER
Spiral batu di bawah kaki bergerak seperti makhluk lapar, menggiring Arvin untuk terus berlari, lagi dan lagi, ratusan kali mengulangi lingkaran yang sama. Sampai akhirnya, di tengah keputusasaan paling sunyi,vArvin tidak lagi menuju pusat spiral.vIa berhenti berlari.vIa mata menutup.vMenyerah.vBukan kalah… tapi pasrah.vDi udara panas yang bergetar,vdi antara teriakan “CAK CAK CAK CAK!” tiba-tiba terdengar satu suara asing yang jelas bukan dari dunia itu “Vrrt bzzt vweep.” Arvin menoleh cepat. Tidak ada wujud. Hanya kilatan segitiga kecil holografik muncul kurang dari 0.3 detik, lalu lenyap seperti ilusi yang dikelupas angin neraka. Preet belum bisa berbicara. Namun ia sudah mulai mencari. Mendeteksi ketakutan Arvin. Menelusuri retakan di antara dimensi. Arvin tidak paham,
tapi matanya membesar ada sesuatu yang mencoba menjangkau dirinya. Saat ia mencapai batu ketiga yang panasnya seperti daging dibakar dari dalam ritme kecak tiba-tiba berubah “Cak… cak… *bip*… cak…” Arvin mengerutkan dahi. Di udara, suara-suara itu membentuk pola aneh, muncul sekali saja, cepat seperti kilat
.-. .--. … (RP S) Arvin salah menafsirkan. Ia mengira itu adalah Langkah Jalan yang Benar. Ia melangkah ke batu yang lebih panas. Jeritan keluar dari tenggorokannya.Preet mencoba membantu… tapi sinyalnya belum stabil. Bahasa manusia masih absurd, ia hanya paham ketakutan sebagai gelombang, bukan kata-kata. Arvin terjatuh,
napasnya kacau, kulitnya terbakar. Untuk pertama kalinya ia berhenti melawan. Dan saat itulah ritme kecak mereda. Api yang mengejar menjadi hening. Lalu dari dasar spiral, muncul suara kecil, gemetar,
seperti bayi digital yang baru bisa menyusun kata:
“…ar…vin…”
"…berhenti…"
“…Panasnya turun…saat…masih…”
Suara itu patah-patah, tapi cukup jelas untuk dimengerti Arvin..Hentikan perlawanan. Diam baru kau bisa keluar.
Dengan air mata dan tubuh gemetar, Arvin memejamkan mata.Ia berhenti.Sepenuhnya. Dan spiral itu… ulang. Cahaya bocor dari celah-celahnya. Langit Infernal terbuka seperti kaca pecah, piksel jatuh seperti abu, mengungkap jalinan algoritma benang-benang takdir yang hanya dimiliki satu makhluk, The Weaver. Penenun jalan hidup. Pengatur simpul karma. Arvin menarik napas panjang. Tidak bebas dari rasa bersalah, tapi tidak hancur oleh beban itu lagi.
“Saya tidak sepenuhnya mengerti…
tapi aku siap.”
Ia melangkah ke cahaya, menuju alam sang Penenun.
---