"In a world that sees everything, being invisible is the only way to survive."
"In a world that sees everything, being invisible is the only way to survive."
For ten years, Leon Voss has been running. From Aeterna. From the past. From the frequency that pulses in his chest. But running is never enough. When RE-GENESIS 0.2 activates and a message from the white dimension appears on his dead laptop, Leon realizes: he's not just a fugitive. He's the guardian of Mr. David's final legacy. The Key Protocol is within him. The frequency of Shayla's prayers is in every heartbeat. Aeterna can chase his body. But they can't capture what's already a part of him. Season 6 is about stopping running. About accepting an unsolicited inheritance. About becoming an anomaly that doesn't just hide, but fights. Because when you can't run... you carry.
LEON VOSS 2056
San Francisco, 2056
Apartemen Leon Voss, Lantai 17
21:47 PST
San Francisco tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berkedip dalam ritme lampu neon yang melelahkan. Dari jendela lantai 17, dunia di bawah sana adalah jaring-jaring sirkuit yang tak berujung.
Di atas sana, The MagLev trains of 2056 are frictionless ghosts of the sky. Kereta-kereta itu melesat dalam reinforced transparent polymer tubes yang mengular di antara gedung pencakar langit. Tanpa roda, tanpa gesekan. Mereka melayang 10–15 cm di atas lintasan elektromagnetik, didorong kekuatan magnet murni dengan kecepatan mengerikan, 600–800 km/jam.
Leon memperhatikan salah satunya lewat di kejauhan. Perjalanannya sunyi senyap hanya ada suara haunting 'whoosh' dari udara yang terbelah saat kereta itu menghilang ditelan kabut San Francisco yang kelabu metalik. Kabut itu berat, statis karena tercampur oleh jutaan smart-dust debu sensor Aeterna yang mencatat setiap embusan napas di kota ini.
Di dalam apartemen yang remang-remang, Leon berdiri mematung. Pantulan wajahnya di kaca terlihat asing lelah dan terjebak. Sepuluh tahun telah berlalu sejak kematian Mr. David, sang arsitek Prayer Server. Dunia mencatatnya sebagai "Kegagalan Sistem Masif," namun bagi Leon, itu adalah hari di mana ia melihat Tuhan dalam bentuk kode putih yang hangat.
Ingatannya tentang Mr. David mulai memudar, terkikis protokol penghapusan data otomatis. Ia ingat wajahnya, tapi tidak namanya. Ia ingat rasanya, tapi tidak detail kejadiannya.
Leon menyesap kopi sintetisnya yang dingin, rasa pahit kimia masih tertinggal di langit-langit mulutnya. Tiba-tiba, suhu di pergelangan tangannya turun drastis. Haptic skin-nya bergetar pelan, memberikan peringatan dingin yang tidak wajar. Tangannya meraba leher Flashdisk Titanium itu masih di sana. Dingin. Diam. Hidup.
Tiba-tiba, permukaan kopi di cangkirnya bergetar. Bukan gempa bumi, tapi sesuatu yang lebih... dalam.
Ztt... Ztt...
Di sudut mata Leon, sebuah glitch membelah monitor TV dan komputernya:
LAYER-01 ACCESS POINT: ---
CAUTION: REGENESIS 0.2 ACTIVE
GOVERNMENT PROTOCOL DETECTED
Jantung Leon berdegup kencang. Di seberang jalan, iklan holografik yang seharusnya menawarkan suplemen otak mendadak statis. Muncul gambar sebatang bunga Melati putih bersih. Sebuah anomali di tengah hutan beton. Lalu, sebuah suara bukan suara manusia, melainkan frekuensi yang bergema dari radio rusak di dapur:
"Leon... mereka mulai menggali lagi."
Di layar terminalnya, algoritma kuno mulai berjalan sendiri: The Prayer Server. Aeterna Dominion tidak pernah berhenti mencari. Mereka tidak mencari server yang hilang; mereka mencari frekuensinya. Dan frekuensi itu berdenyut di dalam setiap detak jantung Leon.
DUG... DUG... DUG...
Bukan ketukan ramah. Itu dentuman sepatu bot militer yang berat dan tanpa ampun.
"Leon Voss! Atas nama Keamanan Kota, buka pintu!"
Leon mematung. Peringatan baru muncul di layarnya:
WARNING: ANOMALY DETECTED
UNREGISTERED BIOMETRIC: VOSS, LEON
"Leon Voss! Hitungan mundur: 10 detik!"
Apartemen ini adalah satu-satunya tempat persembunyian yang ia bangun selama sepuluh tahun. Dinding beton. Jendela kaca setebal 5 cm. Tidak ada jalan keluar. Atau begitulah pikir mereka.
TIIIIIT! Lemari es pintarnya menjerit, alarm overheat palsu. TV menyala dengan volume maksimal statis putih yang memekakkan telinga. Sistem oksigen mati. Udara mendadak tipis dan berbau logam. Mereka menyerang secara digital untuk melumpuhkan kesadarannya.
"5 detik!"
Leon memejamkan mata. Tarik napas. Tahan. Lepas.
"Ketika dunia digital menyerangmu, satu-satunya tempat berlindung adalah dunia fisik," bisik suara Elias di ingatannya.
"3 detik!"
Di luar jendela, sebuah jalur Drone Delivery melintas. Rel magnetik tipis yang menempel di dinding gedung, tempat robot-robot logistik meluncur 24 jam. Leon menghitung dalam hati. Tiga... dua...
"1 detik!"
BOOM! Bukan api, tapi ledakan sonik. Gelombang suara terkompresi merobek engsel pintu dan membuat kaca jendela retak seribu. Dunia menjadi tuli seketika. Hanya ada denging menyiksa yang seolah mengiris tempurung kepala Leon.
Tapi ia sudah bergerak.
Ia menerjang jendela yang retak itu. Di depan matanya, sebuah kotak perak meluncur cepat di sepanjang rel magnetik. Drone pengiriman.
Leon melompat.
Tangan kirinya mencengkeram lengan robotik drone itu. KRAK. Bahu kirinya menjerit, nyaris lepas dari persendian saat tubuhnya tersentak mengikuti kecepatan drone yang mendadak berakselerasi. Di ketinggian 17 lantai, Leon Voss kini hanyalah seonggok daging yang bergelantungan pada mesin pengantar paket, sementara moncong senjata unit taktis Aeterna mulai muncul dari balik asap jendela apartemennya.
Mereka mengepung.
Di San Francisco 2056, kau tidak bisa lari seperti pahlawan di film seluloid lama. Aeterna Corp telah memastikan setiap jengkal saraf manusia adalah milik mereka. The Link chip kecil di belakang telinga telah mengubah populasi menjadi budak data. Mereka melihat dunia lewat Retinal Display, berkomunikasi lewat pikiran yang terhubung ke Aeterna Cloud, dan merasakan emosi lewat getaran Haptic Skin.
Setiap warga adalah titik hijau yang patuh di radar Aeterna. Kecuali Leon.
Leon adalah Singularitas. Sebuah lubang hitam yang bergerak di tengah galaksi informasi. Tanpa chip, tanpa jejak digital. Ia adalah anomali yang kini bergelantungan pada sebuah drone logistik di ketinggian lantai tujuh belas.
Drone itu oleng. Beban 75 kilogram membuat motor penggeraknya menjerit kinetik. Alarm piezoelektrik berbunyi nyaring, melengking tinggi, namun mesin itu tetap dipaksa melaju oleh protokol pengiriman yang kaku. Leon terayun-ayun, perutnya mual menatap jurang aspal di bawah kakinya.
"Target teridentifikasi! Dia membajak Unit Logistik-7! Kejar!" Kata salah satu agen ASF.
Tiga agen ASF (Aeterna Security Force) melompat dari jendela. Mereka mengenakan V-2 Exo-Suits, rangka baja ringan yang memperkuat otot kaki. Mereka mendarat di dinding gedung seberang dengan dentuman metalik yang menggetarkan udara, lalu melompat lagi gerakan mereka seperti belalang predator yang sangat presisi, memotong jarak. Leon bisa mendengar deru mesin di kaki mereka semakin mendekat. Jika pegangannya slip, ia akan menjadi noda merah di trotoar yang akan segera dibersihkan oleh robot sanitasi dalam hitungan menit. Tiba-tiba, Flashdisk di lehernya memanas, membakar kulitnya.
"Leon."
Suara itu muncul bukan dari udara, tapi beresonansi langsung di tulang pendengarannya. Preet AI.
"Mereka mengunci biometrikmu lewat Retinal Tracking. Aku akan membutakan mereka. Pegangan yang kuat!"
Tiba-tiba, seluruh blok meledak dalam kekacauan sensorik. Di enam apartemen pencakar langit sekelilingnya, alarm kebakaran meraung serempak.
WEEEOOOO! WEEEOOOO! WEEEOOOO!
Lampu strobe merah berkedip liar, menghancurkan kalibrasi optik para agen. Pintu darurat menjeblak terbuka. Ribuan orang tumpah ke jalanan dengan panik; massa manusia yang kacau, berteriak, dan memancarkan panas tubuh yang tumpang tindih.
Di radar Aeterna, titik-titik hijau itu mendadak menjadi badai statis. Sensor panas agen ASF mendadak buta; mereka kehilangan jejak Leon di tengah lautan biometrik yang meledak.
Di tengah kebisingan sirine yang memekakkan telinga, sebuah getaran frekuensi mikro merambat dari Flashdisk Titanium di leher Leon. Sinyal itu tidak melalui udara, melainkan beresonansi langsung melalui tulang selangkanya, mengirimkan suara Preet yang jernih ke dalam pusat saraf pendengarannya sebuah bisikan hantu yang hanya bisa didengar oleh Leon:
"Sekarang, Leon! Drone ini akan melepaskan bebannya untuk stabilitas. Pindah ke Unit 09 di bawahmu! SEKARANG!"
Leon melihat drone lain meluncur satu meter di bawahnya. Dengan sisa tenaga di jarinya yang sudah mati rasa, ia melepaskan pegangan. Satu detik ia melayang bebas sensasi jatuh yang menghisap jantungnya ke tenggoroka sebelum tangannya menghantam badan dingin drone kedua. DUAK!
"Weight Sensor bypassed," bisik Preet.
Drone itu menukik tajam, membelah angin menuju gang sempit yang gelap. Saat jarak dengan tanah tersisa tiga meter, Leon melepaskan pegangannya.
BRAK!
Ia menghantam tumpukan kardus bekas dan limbah sintetis. Rasa sakit tajam menjalar dari tulang rusuknya. Leon terbatuk, paru-parunya sesak oleh debu dan bau besi berkarat. Namun bagi seorang anomali, bau busuk ini adalah aroma kehidupan. Di kegelapan gang, Leon merayap masuk ke bayang-bayang. Ia merapatkan jaket Signal Jammer-nya. Lapisan perak di dalamnya bekerja dengan dengung halus, membelokkan sisa-sisa gelombang radar.
Di kejauhan, alarm masih meraung. Kota masih kacau. Namun di monitor pusat kendali Aeterna, mereka hanya melihat ribuan titik hijau yang panik dan satu lubang hitam yang perlahan menghilang, tertelan oleh kegelapan San Francisco yang tak tersentuh cahaya neon.
Itulah Leon.
Anomali.
Webcomic (Free) | Full Novel & Illustrated Version: Available on Amazon. 👉 [ LINK AMAZON ]